Translate This Blog

Minggu, 30 Maret 2014

Contoh Cerpen



Puisi Untuk Ibu

Teriknya mentari dan hembusan angin bercampur debu melengkapi hari yang melelahkan ini. Bel pulang sekolah berbunyi, membuat anak-anak berhamburan keluar kelas. Melihat keadaan di luar, anak-anak menjadi malas pulang. Mereka lebih memilih untuk menunggu di sekolah sampai sore nanti. Tetapi ada juga yang tidak ingin di sekolah lebih lama lagi. Seperti halnya gadis remaja itu. Ia melangkahkan kakinya keluar kelas menuju pintu gerbang sekolahnya sambil menggendong tas dan membawa beberapa buku di tangannya.
“Rifa, kamu sudah pulang?” tanya seorang wanita paruh baya ketika Rifa memasuki rumahnya. Wanita itu ternyata ibunya Rifa.
“Sudah, Bu.” jawab Rifa singkat sambil mencium tangan ibunya. Ia lalu bergegas mandi dan berganti pakaian. Panas mentari yang menyengatnya sewaktu jalan kaki tadi membuat seragamnya basah oleh keringat.
Setelah mandi dan berganti pakaian, ia berjalan menuju kamar tidurnya. Ia rebahkan tubuhnya di atas kasur dan perlahan-lahan kedua kelopak matanya mulai menutup. Sekilas ia teringat ayahnya. Ayahnya yang sudah lama pergi entah kemana. Sampai sekarang pun ia tidak pernah tahu dimana ayahnya berada. Ia tidak tahu apa-apa karena dulu ia masih berumur dua tahun. Yang ia tahu hanya wajahnya saja, itu pun karena foto yang diberi ibunya. Saat ia bertanya keberadaan ayahnya, ibunya hanya menjawab bahwa ayahnya pergi ke tempat yang sangat jauh untuk bekerja. Apakah harus seperti itu? Rela meninggalkan keluarganya sendiri demi pekerjaan dan tak pernah kembali.
Tiba-tiba Rifa ingat bahwa tiga hari lagi ibunya ulang tahun. Ia langsung membuka kedua kelopak matanya dan beranjak dari tempat tidur. Ia duduk di kursi dekat meja belajarnya. Memikirkan kado terindah untuk orang yang paling berharga dalam hidupnya. Pikirannya pun mulai melayang jauh. Tatapan matanya menuju langit-langit ruangan itu. Jemari tangan kanannya menopang dagunya. Sesekali ia memandang lukisan-lukisan hasil karyanya yang ditempel di dinding. Lukisan? Itu sudah biasa. Ia ingin yang beda dari tahun-tahun sebelumnya.
Setelah lama berpikir, Rifa baru ingat. Di sekolah, ia tadi belajar puisi saat pelajaran Bahasa Indonesia. Sempat terlintas di benaknya, ia akan buat puisi untuk ibunya. Tetapi, ia tidak ahli membuat puisi. Ia lalu mendapat ide. Besok, ia akan meminta pada Neza, temannya yang pintar membuat puisi.
Keesokan harinya, disambut dengan tetesan embun yang sejuk, burung-burung yang berkicau, dan mentari yang bersinar cerah, Rifa berangkat sekolah. Ia mengiringi langkah kakinya dengan senandung kecil dari mulutnya. Bunga-bunga dan rerumputan hijau di sisi jalan seakan menari-nari mendengar alunan melodi dari mulut Rifa. Ia memang berbakat dalam bidang melukis dan tarik suara.
“Neza!” panggil Rifa saat ia mulai melangkahkan kaki ke dalam kelas. Rupanya ia melihat Neza sedang duduk di bangku paling depan.
“Ada apa?” tanya Neza heran. Panggilan Rifa yang keras dan tiba-tiba itu nyaris membuat detak jantungnya berhenti.
 “Nih, buatkan aku puisi!” pinta Rifa tersenyum sambil menyodorkan secarik kertas dan pensil yang sudah ia siapkan dari rumahnya.
“Puisi? Untuk apa?” tanya Neza bingung melihat temannya yang antusias meminta dibuatkan sebuah puisi. Padahal hari itu tidak ada pelajaran Bahasa Indonesia.
“Dua hari lagi ibuku ulang tahun. Seperti biasa, aku ingin memberinya hadiah spesial. Maka itu, aku ingin memberinya sebuah puisi. Kamu kan ahli buat puisi, jadi buatkan aku puisi tentang ibu, ya?” pinta Rifa lagi. Namun saat ini wajahnya memelas.
“Asal kamu tahu, ibumu akan lebih bangga kalau puisi yang kamu beri itu hasil karyamu sendiri. Kamu pasti bisa kalau kamu tulus membuat puisi itu. Apalagi kalau puisi itu untuk orang yang paling berharga dalam hidupmu. Maaf, bukannya aku tidak mau membantu. Tetapi alangkah baiknya jika puisi itu kamu buat sendiri sesuai dengan ungkapan hati kamu.” ujar Neza sambil mengembalikan kertas dan pensil milik Rifa.
Bel masuk berbunyi. Rifa yang tadinya terdiam mendengar kata-kata Neza, langsung bergegas menuju bangkunya sendiri. Kata-kata Neza membuatnya malu. Benar juga apa kata Neza, lebih baik ia membuat puisi sendiri.
Detik demi detik telah berlalu. Rifa masih bingung mencari kata-kata yang pas untuk puisinya. Ungkapan hati kepada ibunya terlalu banyak dan tidak akan mungkin semuanya ia tulis. Yang ia inginkan seluruh ungkapan hatinya itu dibuat menjadi beberapa kalimat sederhana, tersusun dalam beberapa bait, dan menjadi sebuah puisi.
Hari ini dan hari esok, tepat satu hari lagi ibu Rifa ulang tahun. Ia cemas karena ia baru membuat enam kalimat. Itu pun ia buat dengan susah payah. Ia rela menguras pikirannya hanya karena puisi itu.
“Ah, dapat! Dapat satu kalimat lagi!” ucap Rifa tersenyum puas saat jam istirahat . Lalu menuliskan sesuatu di buku catatannya. Teman-teman sekelasnya hanya melihat kebingungan. Sementara Rifa terus menulis kata-kata yang baru saja melintas di pikirannya.
Dimanapun dan kapanpun, itulah Rifa. Tidak peduli waktu dan tempat. Yang penting, puisinya cepat selesai dan pada waktunya nanti, puisinya itu siap diberikan kepada ibunya. Idenya memang selalu muncul secara tiba-tiba dan tidak mengenal waktu. Saat belanja di warung, jam istirahat sekolah, bangun tidur, saat makan, bahkan saat mandi pun ia bisa menemukan ide. Tidak harus duduk berdiam diri di kamarnya lagi.
Waktunya tiba, perasaan Rifa menjadi tidak karuan. Pagi tadi ia berpura-pura tidak ingat ulang tahun ibunya. Ia berencana akan mengucapkan selamat ulang tahun pada ibunya saat ia pulang sekolah, beserta puisi yang telah ia buat. Ia ingin membuat sebuah kejutan. Kejutan yang menurutnya cukup istimewa.
  Sesampainya di rumah, ibunya sudah berdiri di depan pintu. Wajahnya tampak cemas. Saat melihat Rifa, ibunya langsung mendekati Rifa.
“Rifa, saat ini juga Ibu mohon. Tolong kamu temui ayahmu! Ini alamatnya.” pinta ibunya cemas sambil menyodorkan kertas kecil berisi tulisan.
 “Temui ayah? Untuk apa? Bukankah ayah telah meninggalkan kita selama 12 tahun dan tidak pernah kembali lagi? Ayah tidak sayang kepada kita. Ayah tidak tanggung jawab. Tetapi kenapa Ibu menyuruhku menemuinya sekarang juga? Sampai kapanpun, aku tidak pernah mengakui dia ayahku!” jawab Rifa ketus. Rifa menjadi lupa rencana membuat kejutan untuk ibunya.
“Kamu tidak boleh seperti itu! Bagaimanapun juga dia ayahmu. Tanpanya, kamu tidak akan ada di dunia ini. Kamu harus tetap menghormatinya, Nak. Tadi Ibu ditelepon bahwa ayahmu sedang sakit. Ia ingin sekali bertemu denganmu. Kasihanilah ayahmu! Kamu jangan menjadi anak durhaka.” pinta ibunya lagi.
“Mengapa Ibu tidak mengerti perasaanku? Ternyata Ibu sama seperti ayah. Tidak peduli dengan aku. Aku tidak mau bertemu Ibu lagi!” ucap Rifa sambil berlari menjauhi rumahnya. Tidak disadari, butiran air matanya mulai membasahi pipinya.
“Tunggu, Nak! Jangan pergi!” ibunya langsung mengejar Rifa setelah melihat anaknya pergi.
Rifa terus berlari tanpa tujuan yang pasti. Ia tidak tahu harus kemana. Ia sedih karena sudah tidak ada lagi yang mengerti perasaannya. Ia tidak mempedulikan air matanya yang terus menetes dan teriakan ibunya. Pokoknya, ia tidak mau bertemu ibunya lagi.
“Nak, awas!” tiba-tiba ibunya berteriak dari kejauhan.
Tak ada yang bisa dicegah. Semuanya terjadi begitu cepat. Begitu juga dengan kecelakaan itu. Rupanya, Rifa tidak sadar bahwa tadi ia telah berlari sampai ke jalan raya. Pikiran dan perasaannya sedang hancur. Karena itu ia tidak peduli keadaan di sekelilingnya. Rifa tergeletak di jalan dan tak sadarkan diri. Benturan keras di kepalanya membuat darah tak henti-hentinya mengalir. Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung berlari mengerumuni Rifa. Ibunya langsung berlari dan menerobos orang-orang yang sedang berkerumun itu.
“Riiffaaaaa!!!! Maafkan Ibu, Nak!!” teriak ibunya keras sekali. Ia tidak berhenti menangis. Menangisi putri semata wayangnya. Hanya Rifa satu-satunya harta yang paling berharga dalam hidupnya.
Lima hari kemudian, setelah Rifa dimakamkan, ibu Rifa menemukan sebuah amplop di bawah bantal tempat tidur Rifa. Di bagian depan amplop itu tertulis “Selamat Ulang Tahun Ibu”. Ibunya tersenyum kaku membaca tulisan putrinya itu. Lalu perlahan ia buka isinya. Terdapat selembar kertas berisi tulisan. Ibu Rifa pun membaca isi tulisan itu.

Ibuku tersayang, ku harap ibu menerima hadiah ini. Ku harap, ibu tidak melihat wujudnya, tetapi lihat ketulusan Rifa memberi hadiah ini. Aku berusaha membuat sesuatu yang terbaik, yang dapat membuat ibu bangga. Hanya ini yang dapat Rifa beri. Sebuah puisi.


Untukmu Ibu
Terdiam menunduk sepi
Terbayang banyak jasamu
Aku tak tahu
Balasan apa yang sesuai untukmu
Ketika ayah tak lagi di sisiku
Engkau merangkulku
Pelukan hangatmu
Buatku lupa rasa amarah
Kau seperti mentari di pagi hari
Cahayanya membawa kehidupan
Kau seperti rembulan di malam hari
Bersinar terang dalam kegelapan
Goresan puisi ini belum tentu indah
Namun ku hanya ingin
Melihatmu tersenyum bahagia
Sebelum aku atau kau tiada

Itulah puisi karyaku. Aku ingin ibu selalu ingat puisi ini. 


Tak sengaja air mata mulai membasahi pipi ibu Rifa. Ia tak kuasa menahan tangis ketika membaca puisi hasil karya putrinya yang paling ia cintai. Sungguh itu puisi yang sangat indah menurutnya. Namun sayang, kini putrinya itu telah tiada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar