Translate This Blog

Jumat, 09 November 2012

Menulis Kreatif Naskah Drama



          Di bawah ini adalah contoh menulis kreatif naskah drama dari sebuah cerita yang berjudul "Putri Nilarani". Hanya untuk contoh yaa.... :)

~ Putri Nilarani ~

Dahulu kala, di Provinsi Jawa Barat ada sebuah negeri bernama Kerajaan Pasir Batang. Rajanya bernama Marundata.  Ia mempunyai seorang putri cantik bernama Nilarani.
Suatu hari, seluruh penghuni kerajaan menjadi risau karena Putri Nilarani hilang tanpa meninggalkan jejak. Raja Marundata pun mengerahkan prajuritnya untuk mencari putrinya.
Raja Marundata
:
“ Prajurit, tolong kau dan seluruh prajurit yang lain pergi mencari  Putri Nilarani! Setelah itu, kau kabarkan kepadaku hasil pencarianmu dan prajurit yang lain!”   
Prajurit
:
“Baik Paduka, hamba akan segera melaksanakan tugas hamba itu.” (pergi meninggalkan tempat itu)

Beberapa hari kemudian.....
Prajurit
:
(datang, lalu bertekuk lutut merendah diri pada Raja Marundata) ”Maaf Paduka, hamba dan seluruh prajurit yang lain telah berusaha mencari Putri Nilarani. Kami telah mencari sampai pelosok negeri, tetapi kami tetap tidak menemukan Putri Nilarani. Sekali lagi, maafkan hamba Paduka.” (sedih disertai rasa takut)
Raja Marundata
:
(cemas) “Benarkah itu?”
Prajurit
:
“Benar Paduka.”
Raja Marundata
:
“Oh, Ya Tuhan! Dimanakah putriku?” (sedih dan bingung)

Setelah mengerahkan seluruh prajuritnya, Raja Marundata menemukan ide. Ia akan mengadakan sayembara.
Raja Marundata
:
“Aku akan mengadakan sayembara. Barang siapa yang dapat menemukan Putri Nilarani, kalau dia laki-laki, akan dinikahkan dengan putri. Kalau dia wanita, akan diangkat sebagai saudara dan dihargai seperti layaknya seorang putri kerajaan.”

Setelah sayembara diumumkan, maka berdatanganlah para ksatria dari berbagai kerajaan. Ada seorang putra mahkota Kerajaan Gantar Buana yang tampan dan gagah perkasa  bernama Pangeran Sumirat. Ia tidak bermaksud mengikuti sayembara tersebut, namun ia berusaha menemukan Putri Nilarani.
Pangeran Sumirat
:
“Saya merasa sedih mendengar nasib Putri Nilarani yang sampai sekarang belum ditemukan. (sambil berpikir) Saya harus bisa menemukan Putri Nilarani.”

Ditemani Ki Bela, seorang abdi setianya, Pangeran Sumirat meninggalkan Kerajaan Gantar Buana untuk mencari Putri Nilarani.
Akhirnya, mereka sampai di desa Banyubiru yang kebetulan hari itu ‘hari pasar’. Pandangan mereka dikejutkan oleh kedatangan seorang gadis berkulit hitam legam sedang membeli ‘ramuan’ di sebuah kios.
Pangeran Sumirat
:
“Kalau kulitnya tidak hitam legam, dia sebenarnya gadis cantik. Hem, mari kita selidiki siapa dia sebenarnya!” (sambil mengelus dagunya dan berpikir serius)
Ki Bela
:
(mengangguk) “Baik Pangeran!”

Merasa ada yang memerhatikan, gadis berkulit hitam legam itu segera meninggalkan kios. Lalu, Pangeran Sumirat dan Ki Bela mengikuti perjalanan gadis itu. Gadis hitam legam itu tiba di sebuah gubuk.
Putri Nilarani
:
(menunduk dan ketakutan) “Ini, Nek, sudah saya belikan ramuannya.”
Nenek Sihir
:
“Kau telah melaksanakan tugas dengan baik (senang dan tertawa kecil). Ramuan ini akan aku gunakan untuk mengobati Duruwiksa, cucuku yang telah nyaris dibinasakan oleh ayahmu!” (marah)

Ternyata gadis hitam legam yang diikuti oleh Pangeran Sumirat dan Ki Bela adalah putri Nilarani yang diculik oleh Nenek Sihir. Pangeran Sumirat dan Ki Bela mengetahuinya karena mengintip dari balik jendela.
Pangeran Sumirat
:
(berbisik kepada Ki Bela) ”Sekarang saatnya kita menolong gadis hitam yang ternyata Putri Nilarani itu!”
Ki Bela
:
“Baik Pangeran!”
Pangeran Sumirat
:
“Ayo kita dobrak pintu gubuk itu!”

Mereka berdua mendobrak pintu gubuk itu. Penghuni gubuk terkesiap dan segera mengadakan perlawanan.
Ki Bela
:
“Hei, Nenek Sihir! Kau telah menculik Putri Nilarani. Sebagai balasannya kami akan memusnahkan kau!”
Nenek Sihir
:
(tertawa lantang) “Hahaha...!!! Kalian tidak akan mungkin bisa memusnahkanku.” (tersenyum)
Pangeran Sumirat
:
“Diam kau! Aku akan melawanmu!” (menendang keras ke arah Nenek Sihir)
Nenek Sihir
:
“Tidak!!!” (terpelanting dan jatuh di atas tungku berapi)

Karena saat itu api tungku sedang berkobar, akibatnya gubuk itu terbakar. Pangeran Sumirat dan Ki Bela segera membawa Putri Nilarani keluar dari gubuk. Namun, sebelum keluar dari gubuk Ki Bela berhasil mengambil ramuan yang dapat memulihkan Putri Nilarani.
Setelah mencari tempat yang aman, Putri Nilarani segera minum ramuan itu. Setelah itu, ia menggigil dan pingsan.
Pangeran Sumirat
:
(khawatir) “Apakah kau tidak salah ambil kendinya?”
Ki Bela
:
“Tidak, percayalah.” (meyakinkan)

Tubuh Putri Nilarani menjadi kaku dan tiba-tiba mengepulkan asap ke biru-biruan. Perlahan-lahan warna kulit hitam itu luntur, berubah menjadi kuning langsat. Putri Nilarani sadar dan menatap wajah Pangeran Sumirat dan Ki Bela.
Putri Nilarani
:
(sambil terbata) “Saya ucapkan terima kasih atas pertolongan Tuan-Tuan.”
Pangeran Sumirat
:
(sambil merendah) “Berterima kasihlah kepada Yang Kuasa. Karena kehendak-Nya, kau bisa pulih seperti sedia kala.”
Putri Nilarani
:
(tersenyum) “Ya, Pangeran. Maaf, bolehkah saya mohon antarkan saya pulang ke Istana Kerajaan Pasir Batang? Saya rindu sekali dengan ayah saya.”
Pangeran Sumirat
:
“Tentu saja, kami tidak keberatan.”

Putri Nilarani, Pangeran Sumirat, Ki Bela pergi ke Istana Kerajaan Pasir Batang. Raja Marundata bersama Permaisuri menyambut gembira saat Putri Nilarani datang.
Raja Marundata
:
(mengeluarkan air mata) “Nak, ayah dan ibu sudah sangat merindukanmu, akhirnya kau kembali juga.” (memeluk Putri Nilarani)
Permaisuri
:
“Ya, itu benar putriku.” (ikut memeluk Putri Nilarani)
Putri Nilarani
:
(meneteskan air mata) “Aku juga sangat merindukan ayah dan ibu. Berterima kasihlah kepada mereka yang telah menolongku dari Nenek Sihir.”
Raja Marundata
:
(melepaskan pelukannya) “Tunggu, siapakah kalian? (penasaran) Aku sangat berterima kasih kepada kalian karena kalian telah menolong putriku.”
Pangeran Sumirat
:
“Saya Pangeran Sumirat dari Kerajaan Gantar Buana. Dan ini abdi setia saya yang bernama Ki Bela.” 
Raja Marundata
:
“Seperti sayembara yang telah saya buat, saya tidak akan ingkar janji. Karena kau telah menolong putriku, maka saya akan menikahkanmu dengan Putri Nilarani. Apakah engkau bersedia?”
Pangeran Sumirat
:
“Keputusan saya, bergantung pada keputusan Putri Nilarani. Bagaimana Putri? Apakah kau mau menjadi pasanganku?”
Putri Nilarani
:
(tersenyum dan mengangguk) “Saya bersedia menjadi pasanganmu.”

Akhirnya, Putri Nilarani menikah dengan Pangeran Sumirat. Mereka menjadi pasangan yang berbahagia sampai akhir hayat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar