Translate This Blog

Jumat, 10 Mei 2013

Contoh Dongeng

AWAL MULA GUNTUR

 


Dahulu kala peri dan manusia hidup berdampingan dengan rukun. Mekhala, si peri cantik dan pandai, berguru pada Shie, seorang pertapa sakti. Selain Mekhala, Guru Shie juga mempunyai murid laki-laki bernama Ramasaur. Murid laki-laki ini selalu iri pada Mekhala karena kalah pandai. Namun Guru Shie tetap menyayangi kedua muridnya. Dan tidak pernah membedakan mereka.
Suatu hari Guru Shie memanggil mereka dan berkata, "Besok, berikan padaku secawan penuh air embun. Siapa yang lebih cepat mendapatkannya, beruntunglah dia. Embun itu akan kuubah menjadi permata, yang bisa mengabulkan permintaan apapun."
Mekhala dan Ramasaur tertegun. Terbayang oleh Ramasaur ia akan meminta harta dan kemewahan. Sehingga ia bisa menjadi orang terkaya di negerinya. Namun Mekhala malah berpikir keras. Mendapatkan secawan air embun tentu tidak mudah, gumam Mekhala di dalam hati.
Esoknya pagi-pagi sekali kedua murid itu telah berada di hutan. Ramasaur dengan ceroboh mencabuti rumput dan tanaman kecil lainnya. Tetapi hasilnya sangat mengecewakan. Air embun selalu tumpah sebelum dituang ke cawan. Sebaliknya, Mekhala dengan hati-hati menyerap embun dengan sehelai kain lunak. Perlahan diperasnya lalu dimasukan ke cawan. Hasilnya sangat menggembirakan. Tak lama kemudian cawannya telah penuh. Mekhala segera menemui Guru Shie dan memberikan hasil pekerjaannya.
Guru Shie menerimanya dengan gembira. Mekhala memang murid yang cerdik. Seperti janjinya, Guru Shie mengubah embun itu menjadi sebuah permata sebesar ibu jari. " Jika kau menginginkan sesuatu, angkatlah permata ini sejajar dengan keningmu. Lalu ucapkan keinginanmu," ujar Guru Shie.
Mekhala mengerjakan apa yang diajarkan gurunya, lalu menyebut keinginannya. Dalam sekejap Mekhala telah berada di langit biru. Melayang-layang seperti Rajawali. Indah sekali.
Sementara itu, baru pada senja hari Ramasaur berhasil mendapat secawan embun. Hasilnya pun tidak sejernih yang didapat Mekhala. Tergopoh-gopoh Ramasaur menyerahkannya pada Guru Shie.
"Meskipun kalah cepat dari Mekhala, kau akan tetap mendapat hadiah atas jerih payahmu," kata Guru Shie sambil menyerahkan sebuah kapak sakti. Kapak itu terbuat dari perak. Digunakan untuk membela diri bila dalam bahaya. Bila kapak itu dilemparkan ke sasaran, gunung pun bisa hancur.
Ternyata Ramasaur menyalahgunakan hadiah itu. Ia iri melihat Mekhala yang bisa melayang-layang di angkasa. Ramasaur segera melemparkan kapak itu ke arah Mekhala. Tahu ada bahaya mengancam, Mekhala menangkis kapak itu dengan permatanya. Akibatnya terjadilah benturan dahsyat dan cahaya yang sangat menyilaukan. Benturan itu terus terjadi hingga saat ini, berupa gelegar yang memekakkan telinga. Orang-orang menyebutnya "guntur".

Contoh Dongeng



Mengapa Beo Selalu Menirukan Suara?

Dahulu kala, hewan-hewan di hutan bisa berbicara seperti manusia. Mereka bercakap, bekerja sambil bercakap, juga hidup rukun dan damai. Pada suatu hari Ibu Peri Penjaga Hutan mengumpulkan penghuni rimba. Ia berkata, “Anak-anakku, Sang Pencipta telah menciptakan makhluk baru. Namanya manusia. Sang Pencipta memutuskan bahwa manusialah yang akan berbicara dengan bahasa kita. Dan kita diperintahkan untuk mencari bahasa dan suara baru untuk kita pakai mulai saat ini.”
Pada mulanya para penghuni rimba terkejut. Namun mereka sadar bahwa tidak mungkin menolak kehendak Sang Pencipta.“Ibu Peri Penjaga Hutan, kami tunduk kepada kehendak Sang Pencipta. Tapi sekarang kami belum bisa mencari bahasa baru untuk kami pakai. Berilah kami waktu,” ujar Singa mewakili teman-temannya.“Aku mengerti. Kalian diberi waktu satu minggu. Kalian akan berkumpul lagi disini dan memberitahu padaku bahasa apa yang kalian pilih. Setelah itu, pakailah bahasa serta suara itu, dan lupakan bahasa manusia.”
Maka pulanglah penduduk hutan ke tempat masing-masing. Mereka mulai berpikir keras untuk mencari suara yang gagah dan cocok untuk mereka masing-masing.
Begitulah, hari demi hari penduduk hutan sibuk bersuara. Mencari-cari suara yang akan mereka pakai selanjutnya. Singa yang telah dinobatkan sebagai raja hutan karena keberaniannya, lebih dahulu memilih suara mengaum.“Aouuuuum,” katanya dengan gagah memamerkan suaranya. Penduduk hutan yang lain senang mendengarnya. Mereka merasa suara itu pas benar dengan bentuk tubuh singa yang gagah.
Tapi tidak semua hewan senang mendengarnya. Burung Beo yang usil malah menertawakan suara itu.“Hahaha, mirip orang sakit gigi,” cetus Beo sambil tertawa terbahak-bahak. Singa sangat malu mendengarnya.
Begitulah, hari berganti hari, semuanya mencoba berbagai suara kecuali Beo. Ia sibuk mengejek suara-suara yang berhasil ditemukan.“Hahaha, seperti suara pintu yang tidak diminyaki,” ejek Beo kepada Jangkrik yang menemukan suara berderik. “Hahaha, kudengar nenek-nenek tertawa,” ejeknya kepada Kuda. “Ban siapa yang bocor? Hahaha,” ia menertawakan suara desis Ular.
Begitulah pekerjaan Beo setiap hari. Ia sibuk mengintip dan menertawakan penduduk hutan lainnya yang mencoba suara baru. Teman-temannya tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka malu dan langsung menghindar dari Beo. Tapi Beo selalu berhasil menemukan dan menirukan suara mereka.“Mbeeeek,” tirunya ketika melihat Kambing. “Ngok-ngooook,” tirunya ketika melihat Babi.
Tak terasa sudah satu minggu. Penduduk hutan harus berkumpul kembali untuk mengumumkan suara yang mereka pilih. Ibu Peri Penjaga Hutan memanggil mereka satu per satu. Beo saja yang masih saja tertawa. Ia pikir teman-temannya bodoh, karena suara yang mereka temukan lucu-lucu.
Tibalah giliran Beo untuk mengumumkan suara barunya. Ia maju ke depan. “Mbeeeek,” jeritnya. “Hei itu suaraku,” kata Kambing. Yang lain tertawa. Beo tertegun. Ia baru sadar, selama ini ia terlalu sibuk mengejek teman-temannya sehingga lupa untuk mencari suaranya sendiri.
“Muuu,…guk-guk,…meong,” Beo panik. Ia menirukan saja suara yang pernah ia dengar. Tentu saja Sapi, Anjing, dan Kucing tertawa terbahak-bahak.
Beo sangat malu. Akhirnya ia menangis tersedu-sedu. Ia minta maaf kepada teman-temannya. Dengan tersenyum Ibu Peri Penjaga Hutan berkata, “Sudahlah, kamu akan tetap kuhadiahkan sebuah suara. Tapi sebagai pelajaran, kau akan tetap menirukan suara orang, sehingga kau akan ditertawakan selamanya.”
Begirulah riwayatnya, mengapa burung beo selalu menirukan suara-suara.

Contoh Dongeng

GENDANG AJAIB



Dahulu kala di Jepang, hiduplah seorang pemuda bernama Hikaru. Kedua orang tua mereka telah lama meninggal. Hikaru sangat rajin membantu kakaknya menjual kayu di pasar. Tiap hari, ia masuk ke hutan untuk mencari kayu.
Suatu hari, saat ia berada di hutan, tiba-tiba terdengar rintihan kesakitan. Hikaru segera mencari asal suara itu. Dan, tampak seorang kakek tertindih dahan besar."Nak!" pinta si kakek saat melihat Hikaru. "Tolong aku! Aku sudah tak tahan lagi."
Hikaru segera menolong kakek itu. Ia memakai sebatang kayu untuk mencungkil dahan pohon."Kek, aku akan menghitung sampai tiga. Pada hitungan ke tiga, Kakek lompat keluar ya!" Si kakek mengangguk. Dengan sekuat tenaga, Hikaru mencungkil dahan besar itu. Akhirnya si kakek berhasil keluar.
"Kau sangat baik, Nak! Hadiah apa yang kau inginkan?" tanya si kakek gembira. "Hho… hho," Hikaru terengah-engah. "Tidak perlu, Kek. Aku ikhlas menolong."
Kakek itu lalu mengambil sebuah gendang kecil dari kayu. Di kedua sisinya bergambar naga yang terbuat dari kulit kambing. Yang satu berlatar belakang warna kuning, yang satu lagi ungu.
"Aku hanya punya gendang ajaib ini. Terimalah!" "Ajaib?" tanya Hikaru heran.
Tetapi pertanyaan tidak dijawab. Sang kakek langsung hilang sekejap mata. "Hiii… hantuuu…" Ia berlari keluar hutan.
Esoknya Hikaru tak mau lagi ke hutan. Takut mengalami hal seperti kemarin. Sorenya, Hikaru tidur-tiduran di bukit belakang gubuknya. Ia termenung memikirkan bagaimana cara membantu kakaknya selagi tidak ke hutan. Mendadak terbayang wajah kakek yang pernah ditolongnya. "Tak mungkin ia mencelakakanku. Aku kan pernah menolongnya," pikir Hikaru lalu merogoh gendang pemberian si kakek dari tasnya. "Apa benar ini gendang ajaib?" Hikaru mengamati gendang itu.
Ia memukul sisi yang kuning. "Tidak terjadi apa-apa?" Ia memukul sisi ungu satu kali. Tidak ada yang berubah. Dia memukul sisi ungu sekali lagi. Sekonyong-konyong hidungnya panjang. "Aaah!" Hikaru kaget dan melepas gendang itu. "Hidungku! Kenapa panjang begini?" ia panik.
Ia meraih kembali gendang tadi. Dengan ragu ia memukul sisi kuning. Mendadak hidungnya yang panjang memendek. Akhirnya normal kembali. Hikaru lega.
"Ah, aku mengerti sekarang. Ini adalah Gendang Pemanjang Hidung yang ramai dibicarakan orang. Ah, asyik juga untuk mainan!"
Hikaru memanjangkan dan memendekkan hidung sambil tidur-tiduran. Ia mengarahkan hidungnya ke langit. Ia menabuh gendang itu bertalu-talu sampai hidungnya menembus awan. Setelah puas, ia memukul sisi kuning untuk menormalkan hidungnya.
"Lho, kok tidak bisa balik?!" serunya panik. Hari mulai gelap. Hikaru mencoba memukul gendang itu sebanyak mungkin. Kekonyong-konyong tubuhnya melesat cepat. "Aaaah!" teriak Hikaru.
Beberapa saat kemudian, setelah menembus awan, ia melihat sebuah istana kecil di langit. Tubuhnya berhenti melesat dan hidungnya normal kembali. Namun ia melihat ada ikatan tali di ujung hidungnya. Rupanya ada seseorang yang mengikat hidungnya di sebuah tiang. Di dekat rumah itu ada pria berjanggut sedang menyiram air. "Hei!" seru Hikaru. "Kenapa kau mengikat hidungku?" Orang itu tergopoh-gopoh menghampiri Hikaru.
"Oh, maaf. Aku tidak tahu itu hidungmu. Kukira itu tangga buatan dewa langit untuk turun ke bumi." "Jadi kau dewa, ya?" Hikaru mengamati orang itu. "Betul, aku Dewa Hujan, " ujarnya memperkenalkan diri. "Kau siapa, manusia bumi?" "Saya Hikaru!" "Begini saja," tawarnya. "Kamu tinggal di sini, membantuku memberi hujan pada penduduk bumi. Bagaimana?"
Setelah berpikir, Hikaru berkata, "Baiklah, Dewa. Tapi hanya untuk sementara kan. Soalnya aku harus membantu kakakku mencari nafkah."
Esok siangnya, Hikaru mulai membantu Dewa menurunkan hujan ke bumi. "Aku mau menurunkan hujan di desaku!" pintanya pada Dewa. Sang Dewa mengangguk. Dari atas awan ia membuang air langit dengan baskom besar. "Horeee!" teriaknya ketika melihat penduduk di desanya kegirangan menyambut hujan. "Eh, itu kakakku!" serunya. Tampak kakaknya lari tunggang langgang menyelamatkan pakaian yang sedang dijemur.
Tiba-tiba, "Aaaaah!" karena kurang hati-hati, pijakan kakinya lepas dari awan. Hikaru terjatuh. Badannya melayang-layang di angkasa. Ia diterbangkan angin ke negeri yang jauh sekali.
Buuk! Hikaru jatuh tepat di atas jerami kandang kuda istana. "Waduh, sakit!" jeritnya. "Negeri apa, ini?" tanyanya dalam hati. Ia berjalan mengelilingi tempat itu. Tiba-tiba tampak seorang putri cantik melintasi taman. "Wah, cantik sekali dia!" Hikaru bersembunyi di balik pohon. "Andai ia jadi istriku!"
Hikaru mendapat akal. Ia mengambil gendangnya dan memukul sisi yang ungu. Seketika hidung sang putri menjadi panjang. Putri pun pingsan melihat hidungnya.
Sore itu juga, disebarkan pengumuman oleh kerajaan. Bunyinya, "Barang siapa yang bisa mengobati sakit putri, jika lelaki akan dijadikan suami, jika perempuan akan dijadikan sudara." Berbondong-bondong tabib datang ke istana. Akan tetapi semua menyerah. Salah seorang dukun berkata, "Ini hanya bisa disembuhkan dengan gendang ajaib."
Hikaru lalu datang ke istana. Di pintu gerbang ia tidak diperbolehkan masuk ke istana. Penjaga gerbang menyangka Hiraku hanya bermain-main. Sebab tidak seperti tabib. Tetapi, setelah memperlihatkan gendangnya, ia lantas diperbolehkan masuk. Hikaru memukul sekali sisi kuning gendangnya. Hidung sang putri langsung memendek. Dan sesuai janji, raja menikahkan putrinya dengan Hikaru. Tentu saja Hikaru tak lupa menjemput kakaknya, dan mereka hidup bahagia di istana.