Translate This Blog

Tampilkan postingan dengan label B. Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label B. Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Maret 2014

Contoh Teks Prosedur Kompleks



Cara Menyambungkan Komputer dengan Internet Menggunakan Modem Eksternal

 Dewasa ini, internet merupakan media paling revolusioner. Banyak pengembangan-pengembangan pada internet, salah satunya adalah perkembangan akses internet menggunakan modem eksternal. Bagaimana cara menyambungkan internet menggunakan Modem ? Berikut langkah-langkahnya :
1.      Pertama, siapkan satu unit computer dan modem eksternal usahakan modem dalam keadaan baik dan sudah diisi pulsa. Pastikan juga terdapat port yang bisa digunakan untuk menyambungkan modem dan pastikan pula, computer menyala.
2.      Jika modem dan computer siap, colokkan modem pada port. Lalu computer akan secara otomatis mendeteksi keberadaan modem.
3.      Selanjutnya, bila modem sudah terdeteksi maka program modem akan muncul dan kita bias langsung menyambungkan computer ke internet. Namun, bila program modem belum terinstal maka kita harus menginstalnya terlebih dahulu. Bukalah modem, lalu klik setup installer modem (program untuk menginstal modem). Selanjutnya, tunggu sampai proses pemasangan selesai dan program modem siap digunakan.
4.      Lalu, bukalah program modem dan klik “connect” untuk memulai proses penyambungan. Setelah proses penyambungan berhasil maka internet siap digunakan.

Contoh Teks Anekdot



Saya Datang

Pada zaman dinasti Song, ada seorang pencuri yang terkenal dengan panggilan ‘saya datang’ di Hangzhou. Setiap dia  mencuri, dia tidak meninggalkan jejak apapun kecuali nama julukannya di dinding rumah korbannya. Penduduk kota kesal karena rumah mereka sering kali  dimasukinya.
Pencarian dilaksanakan dan akhirnya orang  tersebut berhasil tertangkap dan dibawa menghadap hakim kota praja.
“Apakah anda mempunyai bukti bahwa dia bersalah?” tanya hakim kepada polisi.
“Tidak salah lagi yang mulia,” jawab petugas. Tetapi orang itu menyangkap tuduhan tersebut.
“Yang mulia, Anda menangkap orang yang salah”, protesnya.  “Polisi sudah putus asa dan menjadikan saya kambing hitamnya. Mereka tidak punya bukti”
Polisi memperingatkan hakim : “Kami sudah bersusah payah menangkapnya, Yang Mulia. Jika Yang Mulia melepaskannya, sangatlah sukar bagi kami untuk menangkapnya kembali.”
Meskipun tidak ada bukti, hakim memerintahkan supaya dia  ditempatkan di tahanan sambil menunggu pemeriksaan lebih  lanjut. Sesuai dengan adat yang berlaku, seorang tahanan harus memberi uang kepada penjaga penjara pada waktu masuk penjara.
“Saya tidak mempunyai apa-apa sekarang” kata orang tersebut  pada penjaga penjara. “Mereka menangkap saya dan mengambil  beberapa miliku. Tapi saya mempunyai beberapa perak di Gunung Than. Saya ingin memberikannya pada Anda. Saya  menyembumyikannya di bawah bata yang pecah dalam kuil. Pergilah kesana, berpura-puralah sembahyang dan ambil perak itu.
Penjaga penjara semula tidak yakin. Tapi ternyata dia  benar-benar menemukan 20 ons perak. Dia sangat senang dan mulai memperlakukan tahanan itu seperti temannya.
“Saya mempunyai bungkusan yang saya sembunyikan di bawah  jembatan. Saya ingin memberikannya kepada Anda juga” kata tahanan itu beberapa hari kemudian.
“Tapi jembatan sangat ramai, bagaimana saya dapat membawa  sesuatu tanpa ketahuan?” jawab penjaga.
“Bawalah beberapa pakaian, pura-puralah mencuci. Kemudian ambilah bungkusan tersebut dan sembunyikan di keranjang cucian Anda”. Penjaga penjara melakukan apa yang diusulkan tahanan dan menemukan 300 ons perak dalam bungkusan itu.
Beberapa hari kemudian, tahanan meminta pertolongan pada penjaga penjara, “Saya ingin meminta pertolongan Anda. Saya ingin pulang ke rumah saya besok malam. Saya akan kembali sebelum Shubuh.”
Melihat keraguan penjaga itu, dia berkata lagi “Jangan  kuatir, teman. Kenapa saya harus kabur? Polisi sudah menangkap orang yang salah dan hakim tidak dapat menuntut saya. Tidak ada bukti. Saya yakin akan dilepaskan dengan segera. Saya akan kembali dalam waktu 4 jam” Janji tahanan itu pada penjaga. Kemudian penjaga itu mengizinkan tahanan tersebut untuk pulang. Setelah beberapa jam,“Saya kembali”
“Bagus, kamu menepati janjimu” “Saya tidak mau kamu terlibat masalah karena saya. Saya meninggalkan sesuatu ditumahmu sebagai tanda penghargaan.  Saya berharap saya dapat segera dibebaskan” Penjaga kurang mengerti ucapan orang itu, dan dia bergegas pulang ke rumahnya.
“Kamu kembali di saat yang tepat,” kata istrinya dengan gembira. “Saya ingin memberitahumu bahwa waktu shubuh tadi  saya mendengar suara dari atap. Seseorang menjatuhkan bungkusan ke dalam rumah. Ketika saya buka, isinya emas dan perak. Surga sedang menurunkan rakhmatnya di atas kita!” Dia kembali ke penjara untuk mengucapkan terima kasih. Pada  hari itu juga beberapa keluarga melaporkan pencurian pada malam sebelumnya. Di dinding tiap rumah ada tulisan “Saya Datang”.
Ketika hakim mendengar hal ini, dia memerintahkan agar orang  itu segera dibebaskan.

Contoh Cerpen



Puisi Untuk Ibu

Teriknya mentari dan hembusan angin bercampur debu melengkapi hari yang melelahkan ini. Bel pulang sekolah berbunyi, membuat anak-anak berhamburan keluar kelas. Melihat keadaan di luar, anak-anak menjadi malas pulang. Mereka lebih memilih untuk menunggu di sekolah sampai sore nanti. Tetapi ada juga yang tidak ingin di sekolah lebih lama lagi. Seperti halnya gadis remaja itu. Ia melangkahkan kakinya keluar kelas menuju pintu gerbang sekolahnya sambil menggendong tas dan membawa beberapa buku di tangannya.
“Rifa, kamu sudah pulang?” tanya seorang wanita paruh baya ketika Rifa memasuki rumahnya. Wanita itu ternyata ibunya Rifa.
“Sudah, Bu.” jawab Rifa singkat sambil mencium tangan ibunya. Ia lalu bergegas mandi dan berganti pakaian. Panas mentari yang menyengatnya sewaktu jalan kaki tadi membuat seragamnya basah oleh keringat.
Setelah mandi dan berganti pakaian, ia berjalan menuju kamar tidurnya. Ia rebahkan tubuhnya di atas kasur dan perlahan-lahan kedua kelopak matanya mulai menutup. Sekilas ia teringat ayahnya. Ayahnya yang sudah lama pergi entah kemana. Sampai sekarang pun ia tidak pernah tahu dimana ayahnya berada. Ia tidak tahu apa-apa karena dulu ia masih berumur dua tahun. Yang ia tahu hanya wajahnya saja, itu pun karena foto yang diberi ibunya. Saat ia bertanya keberadaan ayahnya, ibunya hanya menjawab bahwa ayahnya pergi ke tempat yang sangat jauh untuk bekerja. Apakah harus seperti itu? Rela meninggalkan keluarganya sendiri demi pekerjaan dan tak pernah kembali.
Tiba-tiba Rifa ingat bahwa tiga hari lagi ibunya ulang tahun. Ia langsung membuka kedua kelopak matanya dan beranjak dari tempat tidur. Ia duduk di kursi dekat meja belajarnya. Memikirkan kado terindah untuk orang yang paling berharga dalam hidupnya. Pikirannya pun mulai melayang jauh. Tatapan matanya menuju langit-langit ruangan itu. Jemari tangan kanannya menopang dagunya. Sesekali ia memandang lukisan-lukisan hasil karyanya yang ditempel di dinding. Lukisan? Itu sudah biasa. Ia ingin yang beda dari tahun-tahun sebelumnya.
Setelah lama berpikir, Rifa baru ingat. Di sekolah, ia tadi belajar puisi saat pelajaran Bahasa Indonesia. Sempat terlintas di benaknya, ia akan buat puisi untuk ibunya. Tetapi, ia tidak ahli membuat puisi. Ia lalu mendapat ide. Besok, ia akan meminta pada Neza, temannya yang pintar membuat puisi.
Keesokan harinya, disambut dengan tetesan embun yang sejuk, burung-burung yang berkicau, dan mentari yang bersinar cerah, Rifa berangkat sekolah. Ia mengiringi langkah kakinya dengan senandung kecil dari mulutnya. Bunga-bunga dan rerumputan hijau di sisi jalan seakan menari-nari mendengar alunan melodi dari mulut Rifa. Ia memang berbakat dalam bidang melukis dan tarik suara.
“Neza!” panggil Rifa saat ia mulai melangkahkan kaki ke dalam kelas. Rupanya ia melihat Neza sedang duduk di bangku paling depan.
“Ada apa?” tanya Neza heran. Panggilan Rifa yang keras dan tiba-tiba itu nyaris membuat detak jantungnya berhenti.
 “Nih, buatkan aku puisi!” pinta Rifa tersenyum sambil menyodorkan secarik kertas dan pensil yang sudah ia siapkan dari rumahnya.
“Puisi? Untuk apa?” tanya Neza bingung melihat temannya yang antusias meminta dibuatkan sebuah puisi. Padahal hari itu tidak ada pelajaran Bahasa Indonesia.
“Dua hari lagi ibuku ulang tahun. Seperti biasa, aku ingin memberinya hadiah spesial. Maka itu, aku ingin memberinya sebuah puisi. Kamu kan ahli buat puisi, jadi buatkan aku puisi tentang ibu, ya?” pinta Rifa lagi. Namun saat ini wajahnya memelas.
“Asal kamu tahu, ibumu akan lebih bangga kalau puisi yang kamu beri itu hasil karyamu sendiri. Kamu pasti bisa kalau kamu tulus membuat puisi itu. Apalagi kalau puisi itu untuk orang yang paling berharga dalam hidupmu. Maaf, bukannya aku tidak mau membantu. Tetapi alangkah baiknya jika puisi itu kamu buat sendiri sesuai dengan ungkapan hati kamu.” ujar Neza sambil mengembalikan kertas dan pensil milik Rifa.
Bel masuk berbunyi. Rifa yang tadinya terdiam mendengar kata-kata Neza, langsung bergegas menuju bangkunya sendiri. Kata-kata Neza membuatnya malu. Benar juga apa kata Neza, lebih baik ia membuat puisi sendiri.
Detik demi detik telah berlalu. Rifa masih bingung mencari kata-kata yang pas untuk puisinya. Ungkapan hati kepada ibunya terlalu banyak dan tidak akan mungkin semuanya ia tulis. Yang ia inginkan seluruh ungkapan hatinya itu dibuat menjadi beberapa kalimat sederhana, tersusun dalam beberapa bait, dan menjadi sebuah puisi.
Hari ini dan hari esok, tepat satu hari lagi ibu Rifa ulang tahun. Ia cemas karena ia baru membuat enam kalimat. Itu pun ia buat dengan susah payah. Ia rela menguras pikirannya hanya karena puisi itu.
“Ah, dapat! Dapat satu kalimat lagi!” ucap Rifa tersenyum puas saat jam istirahat . Lalu menuliskan sesuatu di buku catatannya. Teman-teman sekelasnya hanya melihat kebingungan. Sementara Rifa terus menulis kata-kata yang baru saja melintas di pikirannya.
Dimanapun dan kapanpun, itulah Rifa. Tidak peduli waktu dan tempat. Yang penting, puisinya cepat selesai dan pada waktunya nanti, puisinya itu siap diberikan kepada ibunya. Idenya memang selalu muncul secara tiba-tiba dan tidak mengenal waktu. Saat belanja di warung, jam istirahat sekolah, bangun tidur, saat makan, bahkan saat mandi pun ia bisa menemukan ide. Tidak harus duduk berdiam diri di kamarnya lagi.
Waktunya tiba, perasaan Rifa menjadi tidak karuan. Pagi tadi ia berpura-pura tidak ingat ulang tahun ibunya. Ia berencana akan mengucapkan selamat ulang tahun pada ibunya saat ia pulang sekolah, beserta puisi yang telah ia buat. Ia ingin membuat sebuah kejutan. Kejutan yang menurutnya cukup istimewa.
  Sesampainya di rumah, ibunya sudah berdiri di depan pintu. Wajahnya tampak cemas. Saat melihat Rifa, ibunya langsung mendekati Rifa.
“Rifa, saat ini juga Ibu mohon. Tolong kamu temui ayahmu! Ini alamatnya.” pinta ibunya cemas sambil menyodorkan kertas kecil berisi tulisan.
 “Temui ayah? Untuk apa? Bukankah ayah telah meninggalkan kita selama 12 tahun dan tidak pernah kembali lagi? Ayah tidak sayang kepada kita. Ayah tidak tanggung jawab. Tetapi kenapa Ibu menyuruhku menemuinya sekarang juga? Sampai kapanpun, aku tidak pernah mengakui dia ayahku!” jawab Rifa ketus. Rifa menjadi lupa rencana membuat kejutan untuk ibunya.
“Kamu tidak boleh seperti itu! Bagaimanapun juga dia ayahmu. Tanpanya, kamu tidak akan ada di dunia ini. Kamu harus tetap menghormatinya, Nak. Tadi Ibu ditelepon bahwa ayahmu sedang sakit. Ia ingin sekali bertemu denganmu. Kasihanilah ayahmu! Kamu jangan menjadi anak durhaka.” pinta ibunya lagi.
“Mengapa Ibu tidak mengerti perasaanku? Ternyata Ibu sama seperti ayah. Tidak peduli dengan aku. Aku tidak mau bertemu Ibu lagi!” ucap Rifa sambil berlari menjauhi rumahnya. Tidak disadari, butiran air matanya mulai membasahi pipinya.
“Tunggu, Nak! Jangan pergi!” ibunya langsung mengejar Rifa setelah melihat anaknya pergi.
Rifa terus berlari tanpa tujuan yang pasti. Ia tidak tahu harus kemana. Ia sedih karena sudah tidak ada lagi yang mengerti perasaannya. Ia tidak mempedulikan air matanya yang terus menetes dan teriakan ibunya. Pokoknya, ia tidak mau bertemu ibunya lagi.
“Nak, awas!” tiba-tiba ibunya berteriak dari kejauhan.
Tak ada yang bisa dicegah. Semuanya terjadi begitu cepat. Begitu juga dengan kecelakaan itu. Rupanya, Rifa tidak sadar bahwa tadi ia telah berlari sampai ke jalan raya. Pikiran dan perasaannya sedang hancur. Karena itu ia tidak peduli keadaan di sekelilingnya. Rifa tergeletak di jalan dan tak sadarkan diri. Benturan keras di kepalanya membuat darah tak henti-hentinya mengalir. Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung berlari mengerumuni Rifa. Ibunya langsung berlari dan menerobos orang-orang yang sedang berkerumun itu.
“Riiffaaaaa!!!! Maafkan Ibu, Nak!!” teriak ibunya keras sekali. Ia tidak berhenti menangis. Menangisi putri semata wayangnya. Hanya Rifa satu-satunya harta yang paling berharga dalam hidupnya.
Lima hari kemudian, setelah Rifa dimakamkan, ibu Rifa menemukan sebuah amplop di bawah bantal tempat tidur Rifa. Di bagian depan amplop itu tertulis “Selamat Ulang Tahun Ibu”. Ibunya tersenyum kaku membaca tulisan putrinya itu. Lalu perlahan ia buka isinya. Terdapat selembar kertas berisi tulisan. Ibu Rifa pun membaca isi tulisan itu.

Ibuku tersayang, ku harap ibu menerima hadiah ini. Ku harap, ibu tidak melihat wujudnya, tetapi lihat ketulusan Rifa memberi hadiah ini. Aku berusaha membuat sesuatu yang terbaik, yang dapat membuat ibu bangga. Hanya ini yang dapat Rifa beri. Sebuah puisi.


Untukmu Ibu
Terdiam menunduk sepi
Terbayang banyak jasamu
Aku tak tahu
Balasan apa yang sesuai untukmu
Ketika ayah tak lagi di sisiku
Engkau merangkulku
Pelukan hangatmu
Buatku lupa rasa amarah
Kau seperti mentari di pagi hari
Cahayanya membawa kehidupan
Kau seperti rembulan di malam hari
Bersinar terang dalam kegelapan
Goresan puisi ini belum tentu indah
Namun ku hanya ingin
Melihatmu tersenyum bahagia
Sebelum aku atau kau tiada

Itulah puisi karyaku. Aku ingin ibu selalu ingat puisi ini. 


Tak sengaja air mata mulai membasahi pipi ibu Rifa. Ia tak kuasa menahan tangis ketika membaca puisi hasil karya putrinya yang paling ia cintai. Sungguh itu puisi yang sangat indah menurutnya. Namun sayang, kini putrinya itu telah tiada.

Jenis Majas



Majas adalah gaya bahasa dalam bentuk tulisan maupun lisan yang dipakai dalam suatu karangan yang bertujuan untuk mewakili perasaan dan pikiran si pengarang.

MAJAS PERBANDINGAN
1.      Alegori, menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
Contoh : Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.
2.      Alusio, pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
Contoh : Sudah dua hari ia tidak terlihat batang hidungnya.
3.      Simile, pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan, dll.
Contoh : Kasih saying Ibu itu hangat layaknya sinar mentari pagi.
4.      Sinestesia, metafora berupa ungkapan yang berhubungan dengan suatu indra untuk dikenakan pada indra lain.
Contoh : Aku menyukai padang rumpun karena suaranya tenang sekali.
5.      Pars pro toto, pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek
Contoh : Sejak kemarin dia tidak kelihatan batang hidungnya.
6.      Aptronim, pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
Contoh : Si gemuk tu makan saja daritadi.
7.      Metonimia, pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
Contoh : Pelaku tabrak lari itu menaiki Kijang kapsul hitam.
8.      Hipokorisme, penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
Contoh : Kucing mina sangat manis menawan, karena itu Mina sangat menyukainya.
9.      Eufimisme, pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
Contoh : Dimana saya dapat menemukan kamar kecilnya?
10.  Fabel, menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur   kata.
Contoh : perilakunya seperti ular yang menggeliat.
11.  Eponim, menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
Contoh : Kita bermain ke rumah Lina.
12.  Simbolik, melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk   menyatakan maksud.
13.  Totum pro parte, pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
Contoh : Indonesia bertanding Volly melawan Thailand. (menyebutkan seakan-akan seluruh bangsa Indonesia bermain padahal hanya 6 orang yg bermain)

MAJAS PERTENTANGAN
1.      Oksimoron, majas yang antarbagiannya menyatakan sesuatu yang bertentangan.
Contoh : Cinta membuatnya bahagia, tetapi juga membuatnya menangis
2.      Paradoks, pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
Contoh : Gajinya besar tapi hidupnya melarat.
3.      Antitesis, majas yang menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
Contoh : Hitam dan putih adalah warna kesukaanku.

MAJAS SINDIRAN

1.      Sarkasme, sindiran langsung dan kasar.
Contoh : Masa menulis saja tidak bisa, bodoh sekali kamu!

MAJAS PENEGASAN

1.      Apofasis, penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
Contoh : Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara
2.      Pleonasme, menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Contoh : Darah merah membasahi baju dan tubuhnya
3.      Repetisi, perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
4.      Pararima, pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
5.      Aliterasi, repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
Contoh : Keras-keras kena air lembut juga
6.      Paralelisme, pengungkapan dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar.
Contoh : Jika kamu minta, aku akan datang
7.      Tautologi, pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
Contoh : Kejadian itu tidak saya inginkan dan tidak saya harapkan
8.      Sigmatisme, pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
9.      Antanaklasis, menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
10.  Klimaks, pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
Contoh : Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.
11.  Antiklimaks, pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
Contoh : Ketua pengadilan negeri itu adalah orang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya
12.  Inversi, menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
Contoh : Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat peranginya.
13.  Retoris, ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
Contoh : inikah yang kau namai bekerja?
14.  Elipsis, penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
Contoh : Risalah derita yang menimpa ini.
15.  Koreksio, ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
Contoh : Silakan pulang saudara-saudara, eh maaf, silakan makan.
16.  Polisindenton, pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
17.  Asindeton, pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung
18.  Interupsi, ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
Contoh : Tiba-tiba ia-suami itu disebut oleh perempuan lain.
19.  Ekskalamasio, ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
Contoh : Wah, biar ku peluk, dengan tangan menggigil.
20.  Enumerasio, ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
Contoh : Laut tenang. Di atas permadani biru itu tanpak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan-lahan. Angin berhempus sepoi-sepoi. Bulan bersinar dengan terangnya. Disana-sini bintang-bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang haromonis. Itulah keindahan sejati.
21.  Preterito, ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
22.  Alonim, penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
23.  Kolokasi, asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
24.  Silepsis, penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
Contoh : ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.
25.  Zeugma, silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.

TAMBAHAN
1)      Majas Metafora, gabungan dua hal yang berbeda yang dapat membentuk suatu pengertian baru.
Contoh : Raja siang, kambing hitam
2)      Majas Alegori, majas perbandingan yang memperlihatkan suatu perbandingan yang utuh.
Contoh : Suami sebagai nahkoda, Istri sebagai juru mudi
3)      Majas Personifikasi, majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat – sifat manusia kepada benda, sehingga benda mati seolah-olah hidup.
Contoh : Awan menari – nari di angkasa, baru saja berjalan 8 km mobilnya sudah batuk – batuk
4)      Majas Perumpamaan ( Majas Asosiasi ), suatu perbandingan dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.
Contoh : Bagaikan harimau pulang kelaparan, seperti menyulam di kain yang lapuk
5)      Majas Antitesis, gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berlawanan. Contoh : Air susu dibalas air tuba
6)      Majas Hiperbola, suatu gaya bahasa yang bersifat melebih – lebihkan. Contoh : Ibu terkejut setengah mati, ketika mendengar anaknya kecelakaan
7)      Majas Ironi, gaya bahasa yang bersifat menyindir dengan halus. Contoh : Bagus sekali tulisanmu, sampai – sampai tidak bisa dibaca
8)      Majas Litotes, majas yang digunakan untuk mengecilkan kenyataan dengan tujuan untuk merendahkan hati.
Contoh : Mampirlah ke gubuk saya ( Padahal rumahnya besar dan mewah )
9)      Majas Sinisme, majas yang menyatakan sindiran secara langsung.
Contoh : Perilakumu membuatku kesal
10)  Majas Oksimoron, majas yang antarbagiannya menyatakan sesuatu yang bertentangan. Contoh : Cinta membuatnya bahagia, tetapi juga membuatnya menangis
11)  Majas Metonimia, majas yang memakai merek suatu barang.
Contoh : Kami ke rumah nenek naik kijang
12)  Majas Alusio, majas yang mepergunakan peribahasa / kata – kata yang artinya diketahui umum.
Contoh : Upacara ini mengingatkan aku pada proklamasi kemerdekaan tahun 1945
13)  Majas Eufemisme, majas yang menggunakan kata – kata / ungkapan halus / sopan. Contoh : Para tunakarya itu perlu diperhatikan
14)  Majas Elipsis, majas yang manghilangkan suatu unsure kalimat.
Contoh : Kami ke rumah nenek ( penghilangan predikat pergi )
15)  Majas Inversi, majas yang dinyatakan oleh pangubahan suatu kalimat.
Contoh : Aku dan dia telah bertemu à Telah bertemu, aku dan dia
16)  Majas Pleonasme, majas yang menggunakan kata – kata secara berlebihan dengan maksud untuk menegaskan arti suatu kata.
Contoh : Mari naik ke atas agar dapat meliahat pemandangan
17)  Majas Antiklimaks, majas yang menyatakan sesuatu hal berturut – turut yang makin lama makin menurun.
Contoh : Para bupati, para camat, dan para kepala desa
18)  Majas Klimaks, majas yang menyatakan beberapa hal berturut – turut yang makin lama makin mendebat.
Contoh : Semua anak – anak, remaja, dewasa, orang tua dan kakek
19)  Majas Retoris, majas yang berupa kalimat tanya yang jawabanya sudah diketahui. Contoh : Siapakah yang tidak ingin hidup ?
20)  Majas Aliterasi, majas yang memanfaatkan kata – kata yang bunyi awalnya sama. Contoh : Inikah Indahnya Impian ?
21)  Majas Antanaklasis, majas yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda.
Contoh : Ibu membawa buah tangan, yaitu buah apel merah
22)  Majas Repetisi, majas perulangan kata – kata sebagai penegasan.
Contoh : Selamat tinggal pacarku, selamat tinggal kekasihku
23)  Majas Paralelisme, majas perulangan sebagaimana halnya repetisi, disusun dalam baris yang berbeda.
Contoh : Hati ini biru Hati ini lagu Hati ini debu
24)  Majas Kiasmus, majas yang berisi perulangan dan sekaligus mengandung inverse. Contoh : Mereka yang kaya merasa miskin, dan yang miskin merasa kaya
25)  Majas Simbolik, majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan membandingkan dengan benda – benda lain.
Contoh : Dia menjadi lintah darat
26)  Majas Antonomasia, majas yang menyebutkan nama lain terhadap seseorang yang berdasarkan cirri / sifat menonjol yang dimilikinya.
Contoh : Si pincang, Si jangkung, Si kribo
27)  Majas Tautologi, majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan kata – kata yang sama artinya ( bersinonim ) untuk mempertegas arti.
Contoh : Saya khawatir dan was – was dengannya.